Peran Politik dan Agama Dalam Negara

Peran Politik dan Agama Dalam Negara Foto. Andhika Wahyudiono (Dosen UNTAG Banyuwangi).

Oleh: Andhika Wahyudiono

Bintangpost : K.H. Abdul Wahid Hasyim (1 Juni 1914 – 19 April 1953) merupakan sosok pahlawan nasional yang memiliki pengalaman yang luas dalam dunia politik dan pendidikan di Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Negara serta Menteri Agama pada masa pemerintahan orde lama. Selain itu, ia adalah ayah dari Abdurrahman Wahid, presiden keempat Indonesia, dan merupakan anak dari Muhammad Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama serta pahlawan nasional Indonesia.

Sejak usia dini, Abdul Wahid Hasyim tidak mengikuti pendidikan formal di sekolah dasar yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda, yang disebut Hollandsch-Inlandsche School. Hal ini disebabkan oleh pandangan ayahnya, Hasyim Asy'ari, yang menentang pendidikan yang didirikan oleh penjajah. Sebaliknya, Abdul Wahid Hasyim belajar di Madrasah Salafiyah di Pondok Pesantren Tebuireng. Bahkan, di usia 7 tahun, ia telah berhasil menyelesaikan bacaan Al Quran. Setelah menyelesaikan pendidikan di madrasah, ia membantu mengajar adik-adik dan rekan santri di pesantren.

Perjalanan pendidikan Abdul Wahid Hasyim tidak berhenti di sana. Ia belajar di berbagai pondok pesantren di Jawa Timur dan Mekah. Meskipun menghadapi tantangan, ia berhasil mengatasi hambatan dalam pembelajaran, termasuk pendidikan formal dalam bahasa Arab, Inggris, dan Belanda. Kiprahnya dalam dunia pendidikan tak hanya terbatas pada madrasah tradisional, tetapi juga di dunia sekolah modern. Pada tahun 1944, ia mendirikan Sekolah Tinggi Islam di Jakarta dengan fokus pada pendidikan agama dan ilmu umum.

Peran Abdul Wahid Hasyim dalam mengembangkan dunia pesantren juga tak dapat diabaikan. Ia memadukan sistem pengajaran klasikal dengan metode tutorial, dimana selain mata pelajaran agama, bahasa Arab, ia juga mengajarkan bahasa Inggris dan Belanda. Pilihan ini menunjukkan komitmennya terhadap pendidikan yang holistik, yang menggabungkan aspek agama dan ilmu umum.

Baca Juga :

http://bintangpost.com/read/8028/marak-perundungan-potret-generasi-makin-rusak

Di ranah politik, Abdul Wahid Hasyim juga memiliki kontribusi yang signifikan. Pada usia yang relatif muda, ia terlibat dalam pergerakan menuju kemerdekaan. Ia menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Dalam konteks ini, kebijakannya dalam merumuskan sila pertama Pancasila, "Ketuhanan Yang Maha Esa," menjadi bukti nyata dari pemikiran moderat dan inklusifnya.

Dalam bidang politik, Abdul Wahid Hasyim menjabat sebagai Menteri Negara dan Menteri Agama dalam beberapa periode kabinet. Di bawah kepemimpinannya, ia memberikan kontribusi yang berarti terhadap pembangunan nasional dan perjuangan kemerdekaan. Ia juga menjadi Ketua Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), yang memiliki peran penting dalam pergerakan untuk mencapai kemerdekaan.

Sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Abdul Wahid Hasyim berperan dalam mengarahkan organisasi ini untuk terlibat dalam perjuangan dan perkembangan sosial. Dengan visinya yang inklusif dan substansial, ia memimpin gerakan ini menuju masa depan yang lebih baik.

K.H. Abdul Wahid Hasyim menggambarkan sebuah contoh yang nyata mengenai tokoh nasional yang memberikan pengaruh yang merata pada berbagai bidang kehidupan di Indonesia. Dari ranah pendidikan hingga dunia politik, kehadirannya turut membentuk dasar-dasar masyarakat ini. Dedikasi serta pandangan inklusif yang dipegangnya menjadi pendorong bagi generasi saat ini untuk berperan serta dalam kemajuan Indonesia. Lewat peran yang diemban dalam dunia pendidikan, politik, dan agama, warisan penting yang ditinggalkan Abdul Wahid Hasyim akan terus menjadi sumber inspirasi, memberi arah, dan membantu membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih cerah.

Baca Juga :

http://bintangpost.com/read/8293/darurat-inses-gambaran-kian-hancurnya-tatanan-sosial-negeri-ini

Kiprahnya membuktikan bahwa seseorang tidak hanya dapat memainkan peran yang signifikan dalam satu bidang saja, melainkan mampu merangkul banyak aspek kehidupan. Sebagai contoh, di bidang pendidikan, ia menciptakan terobosan dengan menggabungkan pengajaran agama dengan ilmu umum. Pendekatan ini mengakomodasi kedua sisi penting dalam perkembangan holistik individu. Dalam politik, perannya sebagai Menteri Negara dan Menteri Agama serta kepemimpinannya dalam partai dan organisasi Islam, mengilustrasikan keterlibatannya dalam pengembangan serta perjuangan bangsa. 

Namun, mungkin yang paling mengesankan dari segalanya adalah nilai-nilai inklusif yang diterapkan oleh Abdul Wahid Hasyim. Pandangannya yang menganut inklusivitas menunjukkan penghargaan dan rasa hormat terhadap perbedaan dalam masyarakat. Inilah yang menjadikannya contoh yang inspiratif bagi generasi muda. Visinya tentang persatuan dalam keragaman memberi inspirasi bagi mereka yang ingin berperan dalam pembangunan masa depan Indonesia.

Warisan Abdul Wahid Hasyim tetap relevan dalam perjalanan Indonesia menuju masa depan. Nilai-nilai yang dipegangnya seperti inklusivitas, kerja keras, dan dedikasi dapat diaplikasikan dalam berbagai aspek kehidupan. Para pemimpin masa depan dapat memandang ke arah peran dan prinsip-prinsip yang diemban oleh Abdul Wahid Hasyim untuk membantu membimbing negara ini menuju tujuan yang lebih baik.

Dengan memandang sejarah hidupnya, kita melihat bahwa inspirasi Abdul Wahid Hasyim melebihi batas waktu. Dedikasi dan semangatnya mengajarkan kita bahwa satu individu dapat memberikan pengaruh besar pada masyarakat. Dari bidang pendidikan yang terus berkembang hingga dunia politik yang kompleks, peran yang dimainkan oleh Abdul Wahid Hasyim mencerminkan pentingnya memiliki tekad serta pandangan inklusif dalam membentuk masa depan Indonesia yang lebih baik.







    

Bintangpost.com

Reporter bintangsaburai.com region Nasional.

Administrator

bintangsaburai.com

Leave a Comment