Penyembuhan Kanker Payudara Dengan Terapi Lintah

Penyembuhan Kanker Payudara Dengan Terapi Lintah Foto. Net.

Pringsewu (BP) : Nampak terlihat lintah yang sebelumnya sebesar sapu lidi, semakin lama semakin membesar, setelah menghisap darah dan nanah dari penyakit kanker payudara Ani, yang telah membusuk dan berbau anyir menyengat. 

Terapi lintah yang dilakukan Ani tersebut, merupakan sebagai obat alternatif untuk penyembuhan, yang dilakukan di Saung Setia Hati Terapi Lintah Wu Wei, Pekon Sopoyono, Kecamatan Wonosobo Kabupaten Tanggamus, Jumat (8/9/2023).

Ani (42) merupakan ibu rumah tangga, yang memiliki dua orang putra, dan tinggal disebuah desa dilereng gunung Tanggamus. Dengan kesibukannya setiap hari berjualan jajanan didepan rumahnya, untuk membantu suami memenuhi kebutuhan sehari hari.

Tubuhnya terbaring lunglai tidak dapat melakukan aktivitas seperti biasa, karena penyakit yang dideritanya. Sel-sel kanker terus menggerogoti tubuh, menjalar hingga tembus keluar dari kulit, yang  mengakibatkan lukanya membusuk, sehingga menimbulkan rasa sakit disekujur tubuh.

Baca Juga :

http://bintangpost.com/read/8062/tanggamus-expo-2023-dalam-rangka-hut-kabupaten-tanggamus-ke26

Ketika awak media menyambangi tempat tinggalnya pada Minggu (11/9/2023) kemarin, Ani menceritakan awal datangnya penyakit tersebut. Dia merasakan gejala sakit sejak Januari 2023, dimana saat itu yang dirasakan ada beberapa benjolan di payudara sebelah kanan. Karena dianggap hanya benjolan biasa dan tidak mengetahui tentang bahaya kanker payudara maka dibiarkan, tanpa diperiksa ke dokter.

Pada kesempatan itu, Ani mengungkapkan penyebab terjadinya luka sampai membusuk, pada bulan April 2023, dia bersama suami datang ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pringsewu, untuk memeriksa benjolan yang ada di payudaranya. Dengan sabar dia duduk menunggu antrian, setelah mendapatkan pelayanan dari dokter, dan pihak rumah sakit menyarankan untuk segera diberi tindakan operasi karena kanker telah masuk stadium empat.

Mendengar keterangan dari dokter itu, Ani sangat shok. Seluruh tubuh dari ujung kepala seperti terguyur air, ternyata dia terkena kanker payudara, yang telah masuk stadium empat. Dengan suasana hati cemas dan langkah lunglai, dia pulang untuk mempersiapkan operasi yang terjadwal akan dilaksanakan tiga hari kemudian.

Beberapa hari berselang, operasi berlangsung lancar tanpa ada kendala hingga selesai. Namun operasi pengangkatan kanker tersebut menurutnya belum berhasil, karena setelah lima belas hari, luka bekas operasi tidak kunjung kering justru akhirnya membusuk.

Baca Juga :

http://bintangpost.com/read/8054/bupati-dewi-kukuhkan-mpal-tanggamus

http://bintangpost.com/read/7664/pekon-gunung-tiga-teken-mou-dengan-visigo-academy

Edi suami dari Ani, berinisiatif untuk membawa ke pengobatan alternatif. Dia datang ke Tabib yang kliniknya tidak jauh dari rumahnya, saat itu tabib menyarankan, setiap hari Ani hanya dibolehkan makan umbi-umbian, karena lukanya telah membusuk dikhawatirkan adanya kadar gula tinggi.

Setelah satu bulan menjalani perawatan dan pengobatan, namun tidak ada perkembangan berarti, berat badan semakin hari semakin menurun hingga Ani terlihat cekung, kurus kering.

"Sebelumnya berat badan Ani 65 kilogram, sekarang hanya 43 kilogram. Turun drastis," ujar Edi.

Dirasa tidak ada perubahan dan membawa hasil yang positif, Tabib menyarankan untuk membawa Ani ke Saung Setia Hati Terapi Lintah Wu Wei, yang beralamat di Pekon Soponyono, Kecamatan Wonosobo, untuk terapi lintah.

"Saya mendapat alamat terapi lintah Wu Wei, langsung dari Tabib. Bahkan dia menyuruh untuk segera kesana," tuturnya.

Terapi Lintah Wu Wei

Proses terapi lintah, Ani selalu ditemani oleh sang kakak yang bernama Ningsih, yang dijadwalkan disetiap tiga hari sekali. Berminggu-minggu telah dilalui, perkembangan terlihat membaik, dibuktikan dengan luka yang mengering dan mengecil, sebelumnya luka yang basah, bau busuk anyir dan menyengat serta seluruh badan terasa sakit, kini telah berkurang.

Ningsih mengatakan, pengobatan kanker payudara memang harus dengan penanganan yang serius dan menggunakan obat-obatan herbal, karena sel kanker akan hidup subur berkembang biak apabila konsumsi makanan yang mengandung zat kimia.

"Adik saya sekarang konsumsi berasnya menggunakan beras merah, untuk sayur dan lauknya dimasak dengan bumbu yang tidak mengandung zat kimia," ungkapnya.

Dia juga memaparkan cara proses terapi lintah yang dia ketahui. Pertama lintah diletakkan di pinggiran koreng yang membusuk, ada juga yang ditaruh di tengah tengah. Lalu lintah tersebut dibiarkan. Lintah akan menghisap darah dan nanah yang bercampur kuman, setelah lintah kenyang akan lepas dengan sendirinya.

Baca Juga :

http://bintangpost.com/read/7290/pembentukan-unit-pengumpulan-zakat-disosialisasikan-di-airnaningan

Sementara Marni Hadi Maryuni, selaku terapis yang menangani pengobatan Ani mengatakan, kalau pengobatan melalui terapi gigitan lintah sudah ada sejak jaman dahulu.

"Orang tua jaman dulu kalau sakit terapinya hanya dengan lintah. Jadi jangan takut dengan lintah, karena lintah banyak manfaatnya," terangnya.

Marni sebagai owner Klinik Saung Setia Hati Terapi Lintah Wu Wei ini, selain sebagai terapis dia juga seorang trainer leech theraphy (terapi lintah Wu Wei) se-Lampung, yang memiliki segudang pengalaman. Dan tentunya telah mengantongi sertifikat kompetensi.

"Klinik kami Insha Allah dapat mengatasi berbagai macam keluhan kesehatan. Yang penting jangan menyerah. Kuatkan dalam fikiran, kalau yang terjadi saat ini hanya sementara dan tidak akan lama," ucapnya.

Diketahui, selain terapi lintah, di kliniknya juga melayani bekam, Al Fasdu, uap sauna, distributor Ratu Arab Lampung, untuk keluhan kesehatan seperti Strok, asam urat, gerd, kista, miom, kanker, diabetes, dan penyakit lainnya. (ardi)







   

Bintangpost.com

Reporter bintangsaburai.com region Tanggamus.

Administrator

bintangsaburai.com

Leave a Comment