Menjejak Senyap di Puncak Betung

Menjejak Senyap di Puncak Betung Foto. Red.

Oleh : Dodoy Ariyadi

Pesawaran (BP) : Kabut masih menggantung tebal ketika saya bangun di puncak Gunung Betung, Pesawaran, Lampung, pukul 04.30 pagi. Terdengar suara-suara obrolan pelan para pendaki lain, bersatu dengan desir angin yang menggigilkan tulang.

Di antara rasa lelah dan kantuk, saya menatap ke utara, mendengar suara adzan subuh yang memanggil lembut untuk menjalankan ibadah.

Seraya menghindupkan kompor kecil memasak air untuk menyeduh secangkir kopi, saya menjalankan ibadah sebagai kewajiban seorang muslim.

Seusai shalat dan air pun matang, saya menyeduh secangkir kopi dan duduk diatas aliran air terjun, sambil mengobrol dan menanti momen sunrise pagi yang akan terbit. 

Sambil menunggu, banyak percakapan dan perbincangan yang terjadi diluar logika, yang membuka hati dan pikiran untuk selalu menjaga prilaku. Salah satunya yang paling membekas adalah, jika alam sudah bicara, layaknya sebuah intruksi dari sang khalik yang tidak bisa dihindari.

Jika alam bicara, ijin penuh dari Pencipta sudah tidak bisa di negosiasi. Karena bukan cuma harta dan benda, namun nyawa juga menjadi harganya. 

Tak terasa, perlahan langit berubah. Warna biru pekat menjadi jingga keemasan. Siluet Gunung Betung dan penampakan Gunung Tanggamus dari kejauhan, muncul seperti lukisan raksasa. Cahaya matahari pagi menari di antara kabut, memantul di permukaan pemukiman di bawah dan di kaki gunung.

Seorang teman pendaki di samping saya berbisik, “Ini sunrise terbaik yang pernah saya lihat.” Saya mengangguk. Bukan karena keindahannya semata, tapi karena ada rasa hening dan takjub yang tak bisa dijelaskan.

Di Betung, waktu seolah berjalan lebih lambat. Tak ada sinyal kuat, tak ada bising kota, hanya alam dan kita. Kawan-kawan pendaki lainnya yang sudah bangun, menyapa ramah, menawarkan minuman dan makanan seadanya dengan sederhana.

Karena sebagai sesama pendaki, jika berada dipuncak gunung, merupakan saudara dan kerabat terdekat yang harus saling berbagi.

Tak terasa, sore hari pun tiba, saya dan teman-teman kembali menuruni gunung, membawa pulang lebih dari sekadar foto, tapi juga pembelajaran berharga. 

Berjalan menyusuri jalan setapak yang didampingi suara hewan dan dan pepohonan, saya juga pulang membawa rasa, bahwa alam tak hanya untuk dinikmati, tapi untuk dimengerti.

Dan juga dalam perjalanan di tempat-tempat sunyi seperti ini, sering kali kita justru menemukan suara hati kita sendiri. Merenung tentang perjalanan hidup yang sudah kita lalui, dan menemukan arti hidup. (**)


Salam Satu Hobi






Bintangpost.com

Reporter bintangsaburai.com region Pesawaran.

Administrator

bintangsaburai.com

Leave a Comment