Antara Jenaka, Pemerintah, dan Cerita

Antara Jenaka, Pemerintah, dan Cerita Foto. Ist.

Oleh: Dodoy Ariyadi

Pesawaran (BP) : Di negeri ini ada beberapa hal yang tidak pernah kehabisan stok: Antara janji dan bukti, jenaka para pejabat, dan cerita rakyat yang tiap tahun diulang.

Di negeri yang kaya raya ini juga, ada beberapa kata sakti yang tidak pernah absen dalam berita: Antara janji, jenaka pejabat, pemerintah yang sibuk, dan cerita rakyat yang itu-itu lagi.

Antara kata "kami berpihak pada rakyat" dan kenyataan di lapangan, jaraknya lumayan jauh. Sekitar sejauh gedung DPR ke warung tegal. Di pidato 2 menit, semua masalah selesai. Di lapangan 2 tahun, masalahnya pindah slide presentasi.

Jenaka dimulai saat pemerintah mengumumkan "tahun efisiensi". Rapatnya 3 hari di hotel bintang 5 untuk membahas cara menghemat tinta printer. Hasilnya: dibikin 7 tim, 12 sub-tim, dan 1 sekretariat. Efisien sekali. Rapat 5 jam membahas penghematan kertas, lalu keluar gedung naik mobil dinas 3.000 cc. Efisien di PowerPoint, boros di lapangan. 

Selain itu, ada juga program "turun ke rakyat". Turunnya keren dan mewah. Ada konvoi, ada sirine, pake karpet merah, pagar betis, dan wartawan yang disuruh nanya: "Bapak semangat ya Pak?" Rakyat yang asli cuma boleh nonton dari balik portal, dan jadi properti Instagram.

Rakyat yang katanya mau ditemui disuruh nunggu di tenda, dikasih snack dan air mineral. Foto selesai, pulang. Besok naik lagi harganya.

Soal harga-harga? Tenang. Kata pemerintah, "inflasi terkendali". Memang terkendali. Dompet rakyat yang dikendalikan biar nggak bisa jajan. Beras naik? Itu "dinamika pasar". Listrik naik? Itu "penyesuaian". Gaji naik? Itu "akan dikaji lebih lanjut" — alias cerita bersambung jilid 76.

Pemerintah juga jago soal istilah. Harga naik bukan "mahal", tapi "penyesuaian". PHK bukan "pengangguran", tapi "relaksasi tenaga kerja". Korupsi bukan "maling", tapi "oknum yang khilaf". Bahasanya enak, dompetnya yang perih.

Yang paling jenaka: setiap ada masalah, jawabannya selalu sedang dalam proses atau sedang dikaji. Jalan berlubang? Proses. Sekolah rusak, Sekolah roboh? Sedang dikaji Proses. Korupsi ketahuan? Proses hukum. Rakyat lapar? Proses sabar. Rumah sakit antri? Sedang dikaji. Pupuk langka? Sedang dikaji. Satu-satunya yang tidak dikaji adalah gaji mereka. Itu langsung cair.

Soal infrastruktur, tidak ada duanya. Tol dibangun cepat. Tapi begitu hujan 10 menit, jadi kolam renang umum. Pejabat bilang: "Itu karena curah hujan ekstrem". Rakyat jawab: "Pak, tahun lalu juga gitu."


Rakyat sekarang sudah hafal endingnya. Awal tahun, janji. Tengah tahun, wacana. Akhir tahun, evaluasi. Tahun depan, janji baru dengan kemasan baru.

Semua ini adalah cerita klasik berikutnya yang sudah bisa diprediksi oleh rakyat. Pemerintah selalu bilang "bersama rakyat". Cerita rakyatnya, "bersama-sama nunggu".

Dan yang paling mahal, adalah saat ada kasus besar. Konferensi pers digelar. Layar dipasang. Datanya ditutup. Yang boleh bicara cuma "nanti akan kami sampaikan". Rakyat disuruh sabar. 3 bulan kemudian kasusnya pindah ke "arsip".

Pemerintah rajin bilang "kami mendengar aspirasi". Caranya? Bikin survei online. Isi surveinya: "Apakah anda puas?" Pilihannya: A. Sangat puas B. Puas. Kotak "tidak puas" sengaja dihapus biar hemat server.

Di TV, pejabat tampil dengan jas rapi bicara soal "transformasi digital". Di desa, warganya masih nulis laporan pakai bolpoin karena sinyal cuma ada di atas pohon.

Antara visi misi dan realita ada satu jembatan bernama "anggaran". Jembatannya sering ambruk. Tapi anehnya, proyek patung di alun-alun anggarannya tidak pernah jebol.

Yang paling lucu, semua ini ditutup dengan kalimat: "Mari kita optimis". Optimis itu wajib. Pesimis didenda. Kritis disuruh ke luar negeri. 

Terakhir, setiap 5 tahun sekali kita disuruh memilih. Katanya "kekuasaan ada di tangan rakyat". Setelah dicoblos, kekuasaannya balik lagi ke tangan mereka. Rakyat dapat stiker dan foto.

Jadi antara janji dan bukti, jenaka dan fakta, pemerintah dan rakyat, yang tersisa cuma cerita. Cerita yang diulang tiap tahun, dengan pemeran berbeda tapi skenario sama. Dan kita semua tetap duduk di bangku penonton, sambil bayar tiket lewat pajak.

Ini hanya cerita jenaka bukan sindiran. Jika merasa tersindir, berarti sedang baca dengan jujur. (*)







Bintangpost.com

Reporter bintangsaburai.com region Lampung.

Administrator

bintangsaburai.com

Leave a Comment