Pesawaran (BP) : Tiga hari tanpa kasur empuk, tanpa sinyal, tanpa makanan warung. Yang ada hanya tanah, sungai, hutan, dan air mata.
Tidak ada yang pulang sama seperti saat berangkat. Tiga hari di lapangan telah menguliti ego, menguras tenaga, dan mengganti semuanya dengan sesuatu yang bernama ketangguhan.
Itulah potret Diklatsar Penerimaan Anggota Baru Pecinta Alam Merahputih Pesawaran Angkatan V yang berakhir haru di homebase, dan juga menutup lembaran paling berat dalam hidup para calon kadernya selama tiga hari dari tanggal 26-28 Juni 2026.
Langkah pertama mereka menginjak tanah bukan aspal, tapi tanah kebun warga. Dari sela-sela kebun karet yang getahnya menetes pelan, mereka diseret masuk lebih dalam. Tujuan akhirnya, kawasan hutan Register 19 Gunung Betung yang dingin dan rimbun.
Disanalah ujian kecil dimulai. Hutan menjadi tempat mereka "dimandikan" alam. Tiga hari berturut-turut tubuh direndam dingin. Jeram dan batu licin jadi kelas. Mental peserta diuji tetes demi tetes. Sungai merupakan saksi yang mereka susur dengan kaki lecet, tubuh direndam air dingin hingga menggigil.
Air terjun bukan untuk foto-foto atau selfie, tapi untuk dituruni dengan nyali, dan Rappelling di tebing, Diantara jeram, materi SAR dan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) diajarkan langsung. Dan ditengah hutan, para peserta lapar namun tetap bertahan, mereka survivor dengan makan apa saja yang hutan beri, dan membangun bivak untuk bertahan dari gigitan malam dan dari dinginnya hutan kawasan Betung.
Puncaknya di malam terakhir. Tidak ada nasi, tidak ada lauk. Mereka berpuasa, tanpa makanan berat, hanya berbekal doa dan potongan ubi dan rebusan daun yang mereka temukan di hutan. Perut keroncongan, tapi semangat tidak boleh padam.
Baca Juga :
Koordinator Diklatsar lapangan, Soffyan Hadi yang mengawal dari berangkat hingga pulang mengatakan. Dari sejak dilepas sampai kembali ke homebase, dirinya hanya lihat satu hal. Para peserta tidak pernah menyerah.
"Kecapekan? Pasti!. Semua nangis di dalam hati. Pasti!. Tapi kaki mereka tetap melangkah," ungkap Uun sapaan akrabnya ini, Minggu (28/6/2026).
Tiga hari di kawasan hutan Betung, kata dia, telah merenggut kenyamanan, tapi menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih mahal. Yakni mental baja, saudara sehidup semati, dan jiwa cinta alam yang tak akan pernah mati.
"Ini bukan sekadar Diklatsar. Ini proses melahirkan kembali. Dari anak biasa, menjadi anak Merahputih," ungkapnya.
Isak tangis haru pecah saat kaki mereka kembali menginjak homebase. Buka puasa pertama setelah tiga hari siksaan manis itu terasa seperti surga, terasa seperti pesta paling mewah di dunia. Diakhiri dengan upacara penutupan dengan mata berkaca-kaca dan pelukan sesama, bendera Merahputih berkibar di atas wajah-wajah yang basah dengan air mata.
Ketua Pelaksana kegiatan Diklatsar, Robby Kurniawan mengaku bangga.
"Ini bukan Diklatsar biasa. Ini proses tempa. Tiga hari ini memisahkan mana yang hanya mau seragam, dan mana yang benar-benar mau jadi Merahputih. Saya lihat, yang pulang hari ini adalah baja," tegas Robby.
Baca Juga :
Hal serupa pun sama dengan Ketua Pecinta Alam Merahputih Pesawaran, Afrizal Chandra yang menatap para kader baru dengan mata berkaca.
"Selamat datang di rumah kedua kalian. Ingat, hutan sudah menguji kalian. Sekarang giliran kalian menjaga hutan dan nama baik Merahputih," pesannya.
Salah satu calon anggota, Teguh, tak kuasa menahan isak tangisnya.
"Saya kira saya nggak kuat. Direndam sungai, lapar, dingin... Tapi lihat teman-teman di samping saya, saya malu kalau nyerah. Sekarang saya ngerti, capek ini ternyata nikmat," ucapnya lirih.
Tiga hari di Gunung Betung telah merampas kenyamanan mereka. Sebagai gantinya, hutan memberikan warisan abadi. Saudara, luka, dan mental yang tidak akan pernah patah lagi. (doy)