Jawa Barat (BP) : Kabut tipis yang kerap menyelimuti kaki Gunung Gede Pangrango kini menyaksikan geliat baru di atas tanah subur Cianjur. Tepat pada hari Sabtu ini, PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I - Persero) Regional 2 resmi memulai langkah strategis dengan menanam benih bawang putih di lahan seluas 3,5 hektar, bertempat di Kebun Gedeh, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Langkah nyata ini diambil sebagai komitmen korporasi dalam menekan angka impor komoditas hortikultura, sekaligus menyukseskan program Hilirisasi Sektor Pertanian (Hilisari) yang tengah digencarkan pemerintah demi mewujudkan kedaulatan pangan nasional.
Proyek strategis di Kebun Gedeh ini mengandalkan empat varietas unggul pilihan yang didatangkan langsung dari sentra legendaris Tawangmangu dan Sembalun. Untuk penanaman kali ini, ragam varietas yang disemai meliputi Tawangmangu Baru, Sangga Sembalun, Lumbu Putih, dan Lumbu Hijau.
Pemilihan keempat varietas tersebut didasarkan pada rekam jejak adaptasi dan produktivitasnya yang tinggi di dataran tinggi Nusantara. Memanfaatkan karakteristik tanah vulkanis Cugenang yang kaya nutrisi serta suhu udara yang sejuk, kawasan perkebunan ini dinilai memenuhi seluruh syarat teknis untuk dikembangkan sebagai laboratorium alam penangkaran benih lokal berkualitas prima.
Baca Juga :
Manajer Kebun Gedeh, Umar Hadikusuma, menegaskan bahwa penanaman ini adalah langkah awal dari peta jalan besar perusahaan untuk mengurangi ketergantungan pasar domestik terhadap pasokan bawang putih impor.
Melalui program Hilisari, PTPN I (Persero) Regional 2 tidak hanya berfokus pada aktivitas menanam, tetapi juga mengintegrasikan proses dari hulu hingga hilir agar tercipta nilai tambah ekonomi yang optimal bagi korporasi dan masyarakat, jelasnya saat tanam bibit di areal, Sabtu (23/5/2026).
Umar menjelaskan, dengan elevasi dan iklim mikro yang khas di Cugenang, pihaknya optimistis Kebun Gedeh mampu mentransformasikan diri menjadi pusat penyedia benih bawang putih andalan yang adaptif dan berdaya saing tinggi.
Lebih lanjut Umar memaparkan, perhitungan matematis budidaya yang diterapkan dalam proyek ini dengan rasio kebutuhan bibit 1 banding 1. Artinya, setiap 1 ton bibit dialokasikan secara presisi untuk memenuhi luasan 1 hektar lahan tanam. Melalui skema perhitungan ini, ia memproyeksikan produktivitas hasil akhir yang melimpah saat masa panen tiba.
"Dengan pola tanam dan perawatan intensif ini, dari 1 ton bibit per hektar yang disemai, kami targetkan dapat menghasilkan produksi umbi basah hingga lebih kurang 18 ton per hektar," ungkap Umar optimistis.
Dalam pelaksanaannya di lapangan, PTPN I (Persero) Regional 2 menerapkan standar budidaya pertanian yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP) secara ketat. Mulai dari pemetaan unsur hara tanah yang presisi hingga penerapan teknologi pengairan yang terukur demi mengantisipasi anomali cuaca di dataran tinggi.
Seluruh proses agronomis ini dikawal ketat oleh tenaga ahli untuk memastikan umbi yang dihasilkan nantinya memenuhi standar mutu nasional, sehingga layak didistribusikan sebagai benih penumpang swasembada bagi para petani di berbagai wilayah Jawa Barat.
Baca Juga :
Nadi kehidupan dari proyek ini juga tidak berdenyut sendirian dalam sekat korporasi. PTPN I (Persero) Regional 2 secara aktif melibatkan masyarakat dan kelompok tani lokal di sekitar Kecamatan Cugenang sejak tahap persiapan lahan, penanaman, hingga manajemen perawatan tanaman.
Keterlibatan ini menjadi ruang transfer pengetahuan (knowledge sharing) mengenai teknik budidaya modern yang efisien. Melalui kolaborasi ini, roda perekonomian pedesaan di Cugenang diharapkan dapat bergerak lebih cepat, sekaligus melahirkan ekosistem pertanian di mana masyarakat setempat bertindak sebagai motor penggerak utama.
Melihat lanskap nasional, tantangan terbesar komoditas bawang putih selama ini terletak pada rantai pasok dan minimnya sentra produksi lokal yang berkelanjutan. Jika fase uji coba seluas 3,5 hektar ini menorehkan hasil positif, PTPN I (Persero) Regional 2 telah menyiapkan rencana perluasan area tanam secara bertahap dengan menggandeng lebih banyak mitra tani lokal melalui sistem kemitraan strategis.
Inisiatif yang dimulai hari ini di Kebun Gedeh menjadi bukti konkret bahwa BUMN Perkebunan kini bergerak lebih lincah, adaptif, dan hadir langsung di garda terdepan untuk menjaga kedaulatan meja makan bangsa sekaligus memperkuat struktur ekonomi pertanian nasional. (rls-doy)