Wujud Protes, Warga Gunung Katun TBU Hadang Petugas P2TL Masuk Tiyuh

Wujud Protes, Warga Gunung Katun TBU Hadang Petugas P2TL Masuk Tiyuh Foto. Heri bintangpost.com.

Tubaba (BP) : Puluhan warga dari Tiyuh Gunung Katun Malay Tanjungan, Kecamatan Tulang Bawang Udik (TBU), Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), menghadang petugas Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL) ULP PLN Pulung Kencana untuk masuk ke tiyuh mereka, Jumat (9/9/2022).

Hal itu sebagai bentuk protes warga yang merasa adanya tebang pilih dari pihak PLN, terkait pelaksanaan P2TL tersebut. Selain mendapatkan penolakan dari warga Gunung Katun, sebelumnya diketahui juga bahwa petugas P2TL Pulung Kencana ini mendapat penolakan warga dari salah satu tiyuh yang ada di Kecamatan TBU tersebut. 

Seperti yang diungkapkan perwakilan warga Gunung Katun, Laily bahwa, penghadangan itu bukan untuk melarang pihak PLN dalam melaksanakan P2TL di tiyuh tersebut. Namun sebagai bentuk protes warga, bahwa petugas PLN dalam menjalankan tugasnya harus benar-benar konsisten. 

Mereka (petugas, red), lanjut dia, kemarin juga dihadang dan mendapat penolakan masuk disalah satu tiyuh di kecamatan ini. Dan karena mendapat penghadangan, mereka tidak jadi masuk, lalu ingin melakukan P2TL di tiyuh Gunung Katun ini.

"Penghadangan ini bukan untuk melarang mereka masuk. Namun sebelum para petugas PLN ingin melakukan P2TL di tiyuh kami, selesaikan dulu permasalahan disalah satu tiyuh itu, baru masuk ke tiyuh kami. Kalo beginikan terindikasi adanya tebang pilih," ujarnya.

Baca Juga :

http://bintangpost.com/read/7346/pemkab-tubaba-gelar-rapat-segmen-batas-wilayah

http://bintangpost.com/read/7298/maksimalkan-pengawasan-bawaslu-tubaba-buka-posko-pengaduan

Kalo seperti ini terlihat petugas P2TL tidak transparan. Kalo mau ditertibkan, selesaikan dulu di Tiyuh yang mereka mendapat penolakan awal. Kami minta petugas PLN itu kerjanya sesuai jadwal, jangan mendapat penolak di tiyuh lain, terus mau loncat untuk mengacak-acak tiyuh kami, tegasnya. 

Selain itu juga, kata dia, warga Tiyuh Gunung Katun dan beberapa tiyuh lainnya banyak mengeluhkan pelayanan PLN terhadap mereka (warga, red). Salah satunya seperti pemasangan KWH di rumah Warga Gunung Katun, tapi alamatnya di Dayamurni. Namun warga yang dianggap salah, karena tidak sesuai dengan alamat, lalu listrik dicopot.

"Tentunya itukan mutlak kesalahan PLN, tapi kenapa warga yang jadi korban, dengan memutus aliran listriknya. Warga itu tidak tahu menahu tentang listrik. Kalo sudah daftar pemasangan baru dan bayar, petugas PLN yang pasang. Tapi diperiksa P2TL, itu dianggap kesalahan warga, lalu diputus aliran listriknya," terangnya.

Sementara itu, saat di temuin awak media di kantornya, Irvan Eduardo Purba selaku Manager PLN ULP Pulung Kencana menerangkan, bahwa P2TL ini adalah kegiatan rutin yang dilakukan secara kondusif. Dengan cara memberikan surat pemberitahuan ke Kecamatan terlebih dahulu, kemudian selanjutnya ke tiyuh-tiyuh yang akan menjadi sasaran P2TL.

"Tujuan dari P2TL ini untuk menjaga keselamatan pengguna dan lingkungan, sesuai dengan yang tertera dalam surat pemberitahuan dan yang disampaikan ke kecamatan maupun tiyuh," jelasnya.

Sedangkan terkait adanya petugas P2TL yang mendapatkan hadangan dari warga, dirinya menjelaskan bahwa pihaknya sudah langsung ke lokasi untuk bertemu petugas dan Pemerintah Tiyuh setempat. Untuk memberikan kejelasan tujuan dan maksud dari aktivitas tersebut, karena memang sudah ada pemberitahuan sebelumnya.

Dan pihaknya juga sudah menerangkan ke pemerintah tiyuh tersebut, bahwa jika dalam pelaksanaan P2TL ditemukan unsur-unsur pemakaian yang tidak standar, atau penggunaan yang tidak sah, tentunya akan diambil tindakan sesuai SOP.

"Dengan adanya penghadangan ini, kami sangat menyayangkan. Karena pada dasarnya, kami hanya menjalankan tugas dan sudah ada pemberitahuan. Dan kami dalam melakukan P2TL ini juga resmi, didampingi aparat TNI dan kepolisian. Dengan tujuan untuk melakukan pemeriksaan. Karena jika ada penggunaan listrik yang tidak standar, akan membahayakan warga itu sendiri," tuturnya.

Baca Juga :

http://bintangpost.com/read/7384/musda-dan-pelantikan-pengurus-dpd-lpm-tubaba

Irvan juga mengungkapkan, sebetulnya kewajiban pihak PLN untuk memberitahukan pelaksanaan P2TL itu tidak ada. Namun adanya surat pemberitahuan itu dilakukan sebagai langkah persuasif agar tidak terjadi gejolak diwarga. 

"Dan kita didampingi TNI dan Polri bukan untuk gagah-gagahan. Tapi kami meminta bantuan untuk berjaga-jaga, jika ada hal-hal yang tidak diinginkan," ucapnya.

Sedangkan disinggung penilaian warga bahwa petugas P2TL tebang pilih, Irvan mengatakan bahwa setiap pengguna tidak terlepas dari kewajiban untuk dilakukan pengecekan. Namun pihaknya melakukan hal tersebut dengan skala prioritas, khususnya dalam pencurian arus listrik.

"Diibaratkan adanya selang yang bocor, kita fokus mencari kebocoran itu dulu. Selain itu petugas kami terbatas, namun harus mengawasi banyak pengguna, mitra dan pelanggan. Sehingga harus dilaksanakan dengan skala prioritas," ujarnya.

Maka dari itu, dia juga berharap kepada warga, jika ada yang mengetahui hal-hal yang tidak sesuai, silakan adukan kepada PLN. Karena pihaknya akan ambil tindakan tegas, sesuai dengan SOP dan peraturan yang berlaku. 

"Kami tentunya butuh bantuan dari masyarakat untuk juga ikut mengawasi. Jika ditemukan ada pencurian listrik, segera laporkan. Kami akan langsung periksa. Dan jika terbukti, akan kami beri sanksi pemadaman listrik sementara atau pencabutan KWH di pelanggan tersebut. Kemudian meminta pelanggan tersebut untuk hadir ke kantor, dan menyelesaikan pelanggarannya," ungkapnya.

Sementara saat ditanya adanya pemasangan instalasi listrik dengan nama dan alamat berbeda Irvan menyampaikan bahwa itu salah. 

"Secara administrasi itu salah. Tapi saat ini kami belum fokus ke arah itu. Dan sedang fokus tentang pencurian arus listrik dulu," pungkasnya. (Heri)




    

Bintangpost.com

Reporter bintangsaburai.com region Tulang Bawang Barat.

Administrator

bintangsaburai.com

Leave a Comment